Oleh  : Pandu Radea*

SPORTOURISM-- Salah satu tempat yang banyak memendam kekayaan sejarah adalah Cirebon Girang. Di beberapa sumber naskah Cirebon dan sumber lisan, wilayah ini kerap disebut sebagai kawasan pemerintahan yang telah eksis sejak zaman Tarumanagara, Sunda Galuh, Pajajaran dan berlanjut sampai masa Cirebon Islam.

 

Dari panjangnya kisah sejarah di Carbon Girang, salah satu tempat yang menarik untuk dijelajahi di kawasan ini adalah Gunung Cangak dan Cimandung, yang dianggap tempat pertama kalinya Resi Sentanu datang dari India, untuk mendirikan Kerajaan Indraprahasta di abad 4 M.  Kerajaan ini adalah cikal bakal Kerajaan Wanagiri dan Carbon Girang.

 

 

Rafan Syafari Hasyim dalam penelitiannya menyebutkan, dalam naskah ‘Negara Kretabhumi’ sargah I parwa I disebutkan ‚ sejak tahun 80 saka hingga 230 saka (308 M), banyak kelompok pendatang yang menumpang berbagai perahu dari negeri Bharata dan Bhenggali yang bermukim di Nusantara.

 

BACA JUGA: Raja-raja Pajajaran Setelah Pralaya Bubat

 

Di antara mereka yang berasal dari negeri Bharata terdapat Resi Waisnawa, mereka mengajarkan agamanya kepada penghulu masyarakat, tempat mereka bermukim, khususnya di Jawa Barat. Sedangkan Resi Syaiwa banyak yang bermukim di Jawa Timur. Di antara penganut agama Hindu sekte pemuja Batara Wisnu tersebut adalah Maharesi Sentanu Murti yang bermukim di Desa Krandon, Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon.

 

Wilayah Kecamatan Talun adalah daerah yang dialiri tiga hulu sungai, yaitu Sungai Grampak yang mengalir dari Desa Sarwadadi ke Desa Sampiran. Kemudian Sungai Suba yang mengalir dari Desa Patapan menuju Sampiran, serta Sungai Cirebon Girang yang mengalir dari Desa Cirebon Girang juga menuju ke Sampiran.

 

Di Desa Sampiran itulah ketiga hulu sungai tersebut bertemu menjadi satu, yang diberi nama Maharesi Sentanu dengan nama Gangganadi.

 

Selanjutnya ‘Naskah Pustaka Rajya-rajya I Bumi Nusantara’  juga menyebutkan bahwa Indraprahasta didirikan Maharesi Sentanu yang berasal dari kawasan Sungai Gangga India. Kedatangannya ke pulau jawa karena mengungsi akibat negaranya diserang pasukan Samudra Gupta.

 

BACA JUGA: Ini Alasan di Tanah Sunda tak Berkembang Budaya Candi

 

Indraprahasta didirikan 363 M dan Maharesi Sentanu berkuasa sampai tahun 398 M, dengan gelar Prabu Indaswara Sakalakretabuwana. Kekuasaanya berdampingan dengan Kerajaan Salakanagara yang dipimpin Prabu Darmawirya Dewawarman VIII. 

 

Disebutkan pula Maharesi Sentanu ini kemudian menikah dengan putri Prabu Darmawirya Dewawarman VIII yang bernama Dewi Indari.  Wilayah Indraprahasta kala itu kini meliputi Desa Sarwadadi Kecamatan Sumber (sebagai pusat pemerintahan), Cimandung di Desa Krandon Kecamatan Talun dan Desa Cirebon Girang. 

 

Kala itu duplikasi tempat-tempat di India diaplikasikan untuk menamai Gunung Cireme sebagai Indrakila, sungai yang melintasi wilayahnya diberi nama Gangganadi, termasuk memperdalam sungai yang kemudian diberi nama Setu Gangga.

 

Maharesi Sentanu kemudian digantikan putranya, Jayastyanagara tahun 393 M.  Pada masa putranya berkuasa, Indraprahasta berada di bawah kekuasaan Tarumanagara yang dipimpin Purnawarman. Peristiwa pembangunan yang terjadi pada saat itu adalah memperbaiki aliran sungai Gangga sampai Cisuba pada tahun 410 M. 

 

Atas keberhasilannya, Purnawarman mengadakan syukuran dan memeberi hadiah kepada Jayastyanagara, para brahmana dan masyarakat yang membantu proyek tersebut.  Perbaikan sungai tersebut kemudian diperingati dengan dibuatkan prasati tentang kebesaran Purnawarman yang sifat-sifatnya disetarakan dengan Dewa Wisnu.

 

Ketika Indraprahasta dipimpin oleh Prabu Wirabanyu (421-444 M), Prajurit-prajurit Indraparahasta yang terkenal tangguh dan setia  berhasil memadamkan dan menumpas pemberontakan Cakrawarman yang ingin menggulingkan Maharaja Wisnuwarman penguasa Tarumanagara. Setelah peristiwa itu salah seorang putri Prabu Wirabanyu dinikahi oleh Wisnuwarman.

 

Sementara dari cerita tutur di Desa Sarwodadi dikisahkan bahwa Resi Sentanu datang dari India yaitu dari hulu Sungai Gangga di Himalaya. Mendarat di pesisir Jawa  setelah melihat Burung Cangak (Bango) yang banyak bersarang di Gunung Cangak. Seribu tahun lampau jajaran perbukitan ini dekat dengan garis pantai.

 

BACA JUGA: Sing Apura, Nagri Bawahan Kerajaan Sunda Galuh Kawali

 

Resi Sentanu kemudian menjadikan kawasan Gunung Cangak, juga Cimandung sebagai kawasan suci dan dianggap anak Gunung Himalaya. Gunung Cangak ini merupakan salah satu puncak gunung diantara beberapa puncak lainnya yang berdekatan, seperti Gunung Cimandung dan Gunung Lingga yang juga sarat dengan jejak arkeologis.

 

Sebutan gunung-gunung tersebut lebih merupakan puncak-puncak bukit yang berada lereng Gunung Ceremai. Sehingga dalam naskah disebutkan bahwa kerajaan Indraprahasta didirikan Resi Sentanu di Gunung Ceremai.  Perahu yang digunakan Resi Sentanu saat mendarat di pesisir terdapat di Gunung Cimandung saat ini dikenal sebagai Batu Perahu.

 

Namun  pada abad 8 M,  Indraprahasta yang saat itu dipimpin Prabu Wiratara (719 M-123 M) dilululuhlantakkan Sanjaya yang membalas dendam karena Indraprahasta telah membantu Purbasora menggulingkan tahta ayahnya, Sang Sena penguasa Galuh.

 

Indraprahasta membantu Purbasora karena adik Prabu Wiratara yang bernama Citrakirana menikah dengan Purbasora (putra Sempakwaja). Setelah Indraprahasta hancur maka tahun 719 M Sanjaya mengangkat menantu Padmahariwangsa, yaitu Adipati Kusala,  Raja Wanagiri (719-727) untuk berkuasa di bekas tanah Indraprahasta.  ‘Sirna ing bumi Indraprahasta’  ditulis dalam Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara III/2 :“Ikang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira. Rajya Indraprahasta kebehan nirakaprajaya sapinasuk kadatwan syuhdrawa pinaka tan hana rajya manih i mandala Carbon Ghirang. Wadyanbala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinadika, meh sakweh ira pejah nirawaceca. Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satrwikang tanhana karunya budhi pinaka satwakura.”

 

 

Artinya : Kerajaan Indraprahasta itu telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta ditundukan termasuk keratonnya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas kasihan seperti binatang buas.

 

Bukti primer seperti prasasti yang menegaskan keberadaan kerajaan Indraprahasta memang belum ditemukan, mengingat dari keterangan naskah diatas jejak peradaban Indraprahasta seperti bangunan keratonnya dihancurkan, seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. 

 

Sumber sekunder yang menjadi rujukan mengenai kerajaan tersebut diantaranya didapat dari Naskah Wangsakerta. Namun tak bisa diabaikan bahwa sumber-sumber lain seperti toponimi, sungai, desa dan adat tradisi di kawasan bekas kekuasaan Indraprahasta masih bisa ditemui.  Seperti nama Cimandung dan Gunung Cangak yang sejak awal sudah dikenal semasa Maharesi Sentanu.

 

Sampai saat ini Situs Cimandung walau disebut sebagai Patilasan Mbah Kuwu Sangkan dan Nyimas Ratu Cempa Mulia masih menyiratkan kawasan yang disakralkan sejak zaman Indraprahasta sampai zaman Cirebon Girang. Di Kawasan ini banyak terdapat sumur-sumur dan mata air yang dikeramatkan.

 

Maharesi Sentanu juga menerapkan mandi suci di Gangganadi seperti halnya di Sungai Gangga India. Menurut RM. Hafid Permana, sejarawan Cirebon, di Cirebon pernah dikenal budaya Ngirab, yaitu mandi di Kali Kriyan yang dulunya adalah Gangganadi.  Namun pada masa Islam diubah orientasinya sebagai mandi susuci Rebo wekasan. Di dekat Setu Gangga yang saat ini kering dan menjadi kawasan Pelandakan, terdapat daerah bernama Kandang Prau.

 

Menurut Spa Sulaiman, pemerhati sejarah Indraprahasta, banyak toponimi yang menyiratkan jejak Gangganadi di zaman Indraprahasta seperti Kandang Prau dulunya tempat berlabuhnya perahu yang datang dari pantai utara masuk ke Sungai Cisuba.

 

Terdapat juga jalan Sigaran yang berarti segara. “Lokasi danau atau setunya berada dekat dengan Kandang Perahu, dan diberi nama Rw. 09 Setugangga,” ujar Spa Sulaiman. Semua tempat tersebut  ternyata tidak jauh dari Gua Sunyaragi yang diduga kuat berada di wilayah Indraprahasta.

 

Jejak artefak yang patut dicurigai dari masa Indraprahasta atau Wanagiri juga terdapat di komplek Taman Air Sunyaragi, yaitu sebuah arca yang sudah sangat aus yang dikenal masyarakat sebagai arca Haji Malela.

 

Ikonografi Arca ini sangat langka, karena menggambarkan perwujudan dewa yang sedang duduk di atas yoni dan belum ditemukan pembandingnya.  Sejauh ini belum ada kajian tentang arca Haji Malela di Sunyaragi. Selain itu jejak artefak juga terdapat di Pejambon Kecamatan Sumber, yang bertetangga dengan Kecamatan Talun.

 

Demikian pula Kabuyutan Krapyak dan sumur kuno di Sarwadadi juga patut dicurigai peninggalan Wanagiri atau bahkan Indraprahasta. Temuan lingga yang patah juga didapatkan penulis di Pemakaman Pangeran Drajat yang berada tepat di pinggir Kali Kriyan. Kemudian Di Pejambon terdapat puluhan arca berbagai bentuk yang tersimpan di sebuah bangunan permanen, namun yang tersisa sekitar 20 arca yang diduga kuat peninggalan Indraprahasta maupun Wanagiri.

Terlepas dari polemik asal-usul arca tersebut, kawasan Cirebon Girang ini memang kaya dengan tinggalan arkeologi. [  ]

*reporter Sportourism dan Ketua Komunitas Tapak Karuhun