SPORTOURISM-- Dalam naskah Negara Kertabhumi diceritakan, pada  1415 Masehi Cirebon kedatangan  utusan muhibah dari Kaisar Yung Lo, raja dinasti Ming III. Utusan itu dipimpin Laksamana Cheng Ho, Ma Hwan selaku Sekretaris merangkap pencatat, Kung Way Ping selaku Panglima Angkatan Bersenjata, Wang Kheng Wong sebagai Kapten kapal, dan Pey Shin sebagai pencatat. 

 

Di Cirebon ternyata terdapat bangunan yang didirikan Kung Way Ping  dan masih terpelihara sampai saat ini. Kendati sudah mengalami rehabilitasi, namun arsitektur dan beberapa bidang bangunan masih dipertahankan keasliannya.

 

Bangunan ini awalnya adalah masjid, mengingat Kung Way Ping adalah muslim bermazhab Hanafi,  namun seiring perubahan zaman, akhirnya berubah menjadi Kelenteng Toa lang dan orang Cirebon menyebutnya Kelenteng Talang.

 

                    Altar di Kelenteng Talang

 

Kelenteng Talang termasuk salah satu kelenteng tertua di Jawa Barat selain Kelenteng Sam Po Kong di Ancol. Kelenteng Talang Cirebon diperkirakan dibangun 1450 M sehingga keberadaanya sekarang termasuk Situs cagar budaya yang dilindungi. Kelenteng ini bersama kelenteng kuno lainnya di Cirebon menjadi saksi sejarah interaksi budaya Cina dan pengaruhnya terhadap budaya Cirebon.

 

Pada dinding gerbang kiribagian atas  Kelenteng Talang  terdapat tulisan falsafah yang berbunyi  “Janganlah menggerutu Pada Tian” , di bagian bawahnya tertulis  “Taat Tian  Akan Terpelihara” dan di dinding sebelah kanan bagian atas tertera  “Jangan Menyalahkan Sesama”, di bagian bawahnya  “Melawan Tian  Akan Binasa.”

 

Sebuah kalimat yang sangat dalam dan patut menjadi renungan. Sedangkan pada dinding halaman kanan terdapat gambar-gambar kisah zaman dulu.

 

Di halaman sebelah kiri terdapat pagoda serta sumur tua yang disebut Sumur Kahuripan. Mas Yoyo yang mendampingi kunjungan Sportourism, mengatakan   bahwa Sumur Kahuripan masih ada hubungannya dengan sumur yang ada di Keraton Kasepuhan. Di belakang sumur  terdapat patung dua ekor naga putih, sebagai simbol bahwa  ketika manusia kesusahan maka langit akan menurunkan naga putih untuk membantu.

 

Sebuah meja berukir kan naga di kakinya dengan bokor di atasnya sebagai tempat menaruh dupa.  Di atas pintu masuk menuju ruangan pertama terdapat tulisan berbunyi “Pintu Menuju Kebajikan” serta  empat kata yang tertera pada pintu yang terbuat dari besi, yaitu Cinta Kasih, kesusilaan, kebenaran, dan bijaksana.

 

 

Pada ruangan ini terdapat bagan silsilah dan sejarah berdirinya Kelenteng Talang. Kata Talang berasal dari kata Toa Lang yang artinya pembesar, bangsawan atau pejabat. Sedangkan kelenteng  adalah rumah ibadat bagi penganut agama atau kepercayaan Komfusianisme, Taoisme, dan Budha. dalam perkembangan selanjutnya, ketiga agama atau kepercayaan ini dikenal dengan sebutan Tridharma (Atmojo, 2000: 15).

 

“Awalnya bangunan ini dibuat oleh Laksamana Haji Kung Wu Ping,  yang memiliki hubungan  dengan Majapahit dan Kasepuhan. Karena bekas Mesjid Talang, maka kelenteng ini menghadap ke kiblat,”ujar Mas Yoyo kepada Sportourism. Hubungan derngan Majapahit dipampangkan dalam bagan yang merunut daftar silsilah dari para penguasa Majapahit era Hayam Wuruk sampai Tan Sam Cay atau Tumenggung Aria Wiracula.

 

Pada ruangan kedua dibagian kanan terdapat altar Hok Tek Cin Shin. Dulunya dia adalah seorang kepala desa yang menolong masyarakat saat daerahnya kebanjiran. Di bagian ini juga terdapat kolam kura-kura yang merupakan simbol dari ilmu pengetahuan dan panjang umur. Sedangkan di bagian kiri terdapat altar Kwan Tee Kun, satu di antara 2 Dewa Peperangan (Bu Seng) selain Yo Fei (Gak Hui 1103-1141 M) dan  Kwan Kong atau Kwan Te (219 M). Kwan Tee Kun di Kalangan Konfusianisme disebut Ka Lam Pou Sat, diakui sebagai salah satu Sin Beng yang dihormati dari masa Dinasti Tiga Kerajaan.

 

Pada aula utama atau tempat suci terdapat altar yang memajang patung Nabi Khong Tju dan para muridnya. Nabi besar Kongzi hidup pada zaman Dinasti Zou (551-479 s.M) pada era Chun Qiu (722-481 s.M). Beliau adalah orang yang melengkapi Dao (Jalan Suci) yang telah diawali oleh para Raja Suci dan Nabi-Nabi besar sebelumnya. Dan Mengzi (371-289 s.M) adalah penegak dan penulis Kitab Suci Agama Konghucu yang terakhir yang hidup pada zaman Zhan Guo (475-221 s.M).

 

“Patung ini dibikin 1930 di Singapura, saat ini kondisinya sudah mulai lapuk, sehingga dibuat duplikatnya yang disimpan di bagian belakang patung asli.”  kata Mas Yoyo. Lebih lanjut pria ini menjelaskan bahwa untuk rehabilitasi bangunan  dan biaya perawatannya dari  bantuan pemerintah juga dari swadaya masyarakat Tionghoa di Cirebon.

 

Di samping  kanan di ruang sembahyang terdapat altar Tan Sam Cay Kong. Menurut berita kronik Tionghoa dari Kelenteng Semarang menyebutkan bahwa Tan Sam Cay,  menjadi menjadi Mentri Keuangan Kesultanan Cirebon 1569-1585 M dengan gelar Tumenggung Arya Dipa Wiracula. Tan Sam Cay Kong tidak pernah memakai nama muslimnya yaitu Muhammad Safi’i.

 

Sedangkan dari ‘Kronik Tionghoa Kelenteng Talang’ , pada 1585, Tan Sam Cay wafat termakan racun di Sunyaragi. Jenazahnya ditolak oleh Haji Kung Sem Pak dari pekuburan pembesar-pembesar Kesultanan Cirebon.  Padahal tokoh ini turut berperan dalam pembanguan Gua Sunyaragi.

 

Atas permintaan dari istrinya (Nurlela binti Abdullah Nazir Loa Sek Cong), maka jenazah Tan Sam Cay secara Islam dimakamkan di pekarangan rumahnya sendiri di Sukalila.  Menurut R Nanang Permadi, Tan Sam Cay disebut juga Tan Cung Lay,  makamnya di Sukalila berupa bong Cina.

 

Walaupun dikuburkan secara Islam, namun  penduduk Tionghoa yang bukan Islam mengadakan pula upacara naik arwah untuk mendiang Tan Sam Cay di Kelenteng Talang.  Namanya dituliskan dengan tulisan Tionghoa di atas kertas merah dan  disimpan di Kelentang Talang untuk selama-lamanya.

 

Tan Sam Cay menjadi Demi God dengan nama Tan Sam Cay Kong yang  dipercaya dan dipuja dapat mengabulkan doa dengan ritual membakar hio.

 

Selain itu di sayap sebelah kiri terdapat bangunan untuk menimba ilmu agama, moral, etika, dan filsafat dan pelajaran Bahasa Mandarin. Bahkan di halaman klenteng  masih digunakan untuk latihan wushu dan barongsay-liong.

“Masyarakat umum pun bisa mengikuti kegiatan tersebut,”ujar Mas Yoyo. Bahkan pada saat bulan Ramadhan, kelenteng ini digunakan pula sebagai tempat sahur dan berbuka puasa, sebagai wujud harmonisnya warga Cirebon.

[ Pandu Radea  dari Cirebon]