sportourism.id - Dengan alasan mewujudkan permainan yang adil, badan dunia yang mengatur tentang trek dan lintasan menerbitkan aturan baru. Memaksa para atet perempuan untuk menurunkan kadar hormon testosteronnya, bersaing dengan pria, atau ‘menyerahkan’ karir internasional mereka.

Aturan ini akan diberlakukan mulai November mendatang ini awalnya akan dilakukan pada lomba lari jarak menengah, 400 m hingga satu mil. Karena jarak ini dianggap membutuhkan kecepatan, kekuatan, dan daya tahan. Saat dibutuhkannya peningkatan kadar testosteron yang dianggap memberikan pengaruh besar pada performa.

Regulasi ini tentunya akan menimbulkan kontroversi lebih lanjut dan mungkin membawa tantangan hukum lain untuk sebagian besar unsur olahraga, di mana kompetisi dibagi menjadi kategori pria dan wanita, sementara jenis kelamin biologis tidak terlalu murni dan biner.

Aturan ini sebenarnya sering kali berubah selama bertahun-tahun. Paling menonjol pada atlet lari Caster Semenya asal Afrika Selatan. Pelari jarak menengah yang dominan hingga juara dua kali Olimpiade pada jarak 800 m.

Atlet-atlet perempuan dengan peningkatan kadar testosteron atau yang dikenal dengan hiperandrogenisme ini harus menurunkan jumlah hormon yang bereda dalam darah. Proses yang dilakukan enam bulan sebelum diizinkan kembali bersaing di acara-acara internasional seperti Olimpiade dan kejuaraan dunia lain.

Atlet yang ketahuan atau terkena, ditandai dalam aturan sebagai "atlet dengan perbedaan perkembangan seksual". Lalu, mereka harus mempertahankan tingkat hormon tersebut tetap rendah agar memenuhi syarat untuk pertandingan internasional.

Jika tidak, mereka akan dihadapkan dengan pilihan sulit, seperti terapi hormon, membatasi penampilan ke pertemuan nasional, bertanding melawan laki-laki, memasuki acara atlet intersex, hingga tawaran pindah ke jarak yang lebih jauh atau lebih pendek. Hingga melepaskan kesempatan mereka untuk berpartisipasi dalam kompetisi olahraga paling bergengsi.

International Association of Athletics Federations (IAAF) mengatakan, peraturan tersebut dimaksudkan untuk memastikan, “persaingan yang adil dan berarti dalam klasifikasi perempuan,” katanya seperti yang dikutip dalam independent.co.uk.

Pihaknya pun menambahkan, "sama sekali tidak dimaksudkan sebagai jenis penilaian atau mempertanyakan jenis kelamin atau identitas gender dari setiap atlet". Atletpun tidak akan diharuskan menjalani operasi untuk menurunkan kadar hormon alami mereka itu.