SPORTOURISM -- Letnan Steyn van Hensbroek, pejabat administrasi pemerintah kolonial Hindia-Belanda di Flores, merasa perlu mendengar lebih banyak kisah tentang 'naga' di Kepulauan Sunda Lesser -- kini Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Ia memanggil prajurit Belanda yang mengaku melihat 'naga', dan memintanya memberikan gambaran utuh tentang binatang mengerikan itu. Ia juga memanggil nelayan-nelayan Flores yang biasa mencari ikan di lepas pantai pulau-pulau kecil Sunda Lesser.


Van Hensbroek bukan pejabat Hindia-Belanda pertama di kawasan Reo, di Manggarai Tengah bagian utara, yang mendengar kisah tentang 'naga'. Hampir semua pejabat lainnya juga mendengar.


Namun Van Hensbroek tidak ingin sekadar mendengar, tapi berniat membuktikan kebenaran cerita yang sekian lama beredar di masyarakat Flores. Ia menyusun rencana ekspedisi ke salah satu pulau kediaman sang naga, menangkap binatang itu, dan mengungkap kisahnya.


Suatu hari di tahun 1910, Van Hensbroek -- bersama sejumlah prajurit pilihan dan terlatih -- berangkat ke pulau kediaman sang naga. Ia tak kesulitan menemukan binatang mitologis itu, membunuh salah satu, dan membawanya ke markas. Ia juga menamai pulau tempatnya mendapatkan binatang itu dengan nama Pulau Komodo.


Studi awal menyebutkan binatang itu mirip kadal, dengan panjang 2,1 meter. Binatang itu dikirim ke Museum Zoologi Buitenzorg, kini bernama Bogor, untuk diteliti.


Peter A Ouwens, direktur Museum Zoologi Bogor, mempelajari binatang itu lebih mendalam dan mempublikasikan hasil studinya kepada dunia lewat desertasinya pada tahun 1912. Ia juga memberi nama binatang itu Varanus Komodoensis.


Jauh sebelum ekspedisi Van Hensbroek, naturalis Inggris Alfred Russel Wallace berlayar melewati Pulau Komodo antara tahun 1857 dan 1859, tapi sama sekali tidak mendengar kisah sang naga. Dalam Malay Archipelago, yang dipublikasikan tahun 1869, Wallace menemukan 1.000 spesies selama ekspedisi tapi kehilangan sesuatu yang spektakuler; kadal raksasa yang akan menginspirasi dunia.


Yang terjadi setelah publikasi Ouwens adalah perburuan besar-besaran. Masyarakat tidak takut lagi kepada sang naga. Komodo diburu untuk diambil kulitnya atau ditangkap hidup-hidup.


Pemerintah Swapraja Bima mengambil langkah pencegahan, dengan mengeluarkan UU Perlindungan Komodo pada 12 Maret 1915. Langkah ini kurang efektif, karena hanya mencegah masyarakat Kesultanan Bima, tapi tidak pemburu dari kalangan pejabat Belanda dan orang kaya.


Tahun 1926, Swapraja Manggarai mengeluarkan peraturan serupa. Empat tahun kemudian Residen Flores memberlakukan peraturan yang sama. Tahun 1931, pemerintah Hindia-Belanda di Batavia memasukan Komodo sebagai satwa yang mutlak dilindungi lewat Undang-Undang Perlindungan Binatang Liar.


Ouwens memperkenalkan Komodo kepada dunia, tapi Douglas Burden -- pekerja di American Museum of Natural di New York -- menjadikan binatang ini mendunia. Tahun 1926, bersama herpetolog terkenal ER Dunn, ia meneliti dan berinteraksi langsung dengan Komodo. Ia pulang ke New York dengan 12 spesimen yang diawetkan, dua ekor komodo hidup, dan memberi nama baru untuk binatang ini yaitu Komodo Dragon.


Temuan Burden menginspirasi lahirnya film King Kong tahun 1933. Terakhir, Burden menulis buku best seller berjudul Dragon Lizard of Komodo An Expedition to the Lost World of the Dutch East Indies.


Komodo adalah anugerah dari masa prasejarah, yang hidup di Taman Nasional Komodo (TNK) -- wilayah yang disebut sebagai kepingan Taman Jurrasic. TNK mencakup Pulau Komodo, Padar, Rinca, Gili Motang, dan Nusa Kode, dengan populasi Komodo mencapai 4.600 ekor. Komodo mendunia sebelum Indonesia ada, dan mengundang banyak wisman untuk melihatnya dari dekat.


Namun, TNK bukan hanya Komodo tapi rumah bagi 111 jenis burung, anjing hutan, rusa, babi hutan, kuda liar, musang, dan tikus besar, plus 254 spesies tumbuhan yang berasal ari Asia dan Australia. TNK adalah salah satu Pesona Indonesia.


TNK ditetapkan 6 Maret 1980. Tiga tahun sebelumnya, kawasan yang sama ditetapkan sebagai Cagar Alam dan Biosfer. Unesco melihat peran penting TNK dan menetapkannya sebagai situs warisan dunia pada tahun 1991. Setahun kemudian, pemerintah Indonesia menetapkan TNK sebagai simbol nasional.


Tidak keliru jika Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan TNK dan Labuan Bajo sebagai satu dari 10 Top Destinasi Prioritas. Keduanya diharapkan menyedot banyak wisman pada tahun 2019, setelah mengalami perbaikan akesesibilitas dan konektivitas.


Saat ini, wisman datang ke Pulau Komodo dengan kapal pesiar, atau -- seperti yang dilakukan aktris Gwyneth Paltrow beberapa waktu lalu -- berlayar dari Bali dengan menggunakan kapal kayu. Lainnya datang melalui Labuan Bajo.


Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memberi perhatian serius pada berbagai kendala yang membuat TNK dan Labuan Bajo belum memenuhi standar daerah tujuan wisata. Salah satunya, landas pacu Bandara Labuan Bajo yang pendek dan belum bisa didarati pesawat berbadan besar.


Meski demikian, Menpar Arief Yahya optimistis TNK dan Labuan Bajo akan menjadi salah satu penopang target 20 juta wisatawan pada tahun 2019.