SPORTOURISM – Belakangan ini nama Suku Asmat banyak terdengar, di media konvensional dan media sosial. Daerah yang berada di daerah pesisir Selatan Papua ini terdiri dari rawa-rawa, dan dikelilingi hutan manggrove serta aliran sungai-sungai. 

Keindahan papua tak perlu diragukan lagi, tidak melulu tentang Raja Ampat. Ada beberapa tempat yang memiliki nilai historis tersendiri. Salah satunya, kota Agats ibukota dari wilayah pemekaran baru Kabupaten Asmat yang merupakan bagian dari propinsi Papua. Kota ini berada di pesisir selatan pulau Papua berdekatan dengan wilayah Timika, Kabupaten Mimika.  

Konon, seratus tahun lalu, Pastor berkebangsaan Belanda bernama Jan Smith melangsungkan misi pekabaran Injil di wilayah pedalaman suku Asmat. Keterbatasan ketika itu tak menyurutkan smangat Pastor Jan Smith melayani tuhan.

Hingga suatu ketika, sang Pastor terbunuh oleh secara misterius dan tak terungkap sampai sekarang. Sebelum meninggal, Jan Smith membuat sebuah pernyataan yang diartikan sebagai kutukan oleh penduduk setempat. Ia mengatakan, sebuah wilayah pesisir selatan Papua yang bernama Agats ini akan basah dan menjadi wilayah rawa untuk selamanya.

Ada keunikan tersendiri di Agats yang berdiri diatas tanah berlumpur dan rawa. Sarana jalan berupa papan, sekilas jalan menyerupai dermaga.  Seluruh jalan di kota Agats memang menyerupai jembatan yang dibuat dari kayu besi. Seiring perkembangan jaman dan teknologi, jembatan disempurnakan dalam bentuk beton yang lebih kuat.

Jalan jembatan kayu yang terbentang luas di seluruh wilayah Agats tidak akan mampu menahan beban motor mesin yang cukup berat, apalagi mobil sudah dipastikan tidak akan mungkin menjadi alat transportasi. Selain motor listrik, para penduduk Agats mengandalkan transportasi laut berupa perahu motor atau sekedar berjalan kaki bila masih berada di dalam kota.

Keterbatasan lain yang dimiliki Agats adalah kurangnya pasokan air bersih. Masyarakat Agats hingga kini bertahan dengan air hujan yang ditampung di tabung-tabung air. Kondisi tanah rawa memang membuat tanah ini sulit menyediakan air bersih. Kreatifitas masyarakat membuat mereka mampu terus bertahan dalam kondisi ini.

Tidak jauh dari pusat kota Agats, terdapat sebuah desa tradisional bernama Syuru. Di desa ini berbagai kebudayaan khas Asmat pun dapat dilihat secara langsung. Mulai rumah bujang “Jew” hingga ukiran-ukiran kebanggaan Asmat.

Desa Syuru dapat menjadi titik awal untuk mempelajari berbagai kebudayaan Asmat sebelum masuk langsung ke wilayah pedalaman lain seperti Sawaerma atau Asuwetsy. Kota Agats seakan menjadi mukadimah sebelum memulai petualangan lebih jauh lagi untuk mengenal keberadaan suku Asmat di bumi Papua.