SPORTOURISM – Saat kebiasaan orang Indonesia dibawa ke luar negeri dan mengunjungi beberapa negara, ternyata sering kali tak sesuai dengan kebudayaan warga negara aslinya. Bahkan dianggap tak baik di negara lain.

Kebiasaan dan perilaku yang biasa terjadi di Indonesia, ternyata tak semuanya bisa diterima di luar negeri. Seperti beberapa kebiasaan dan perilaku ini yang dianggap sopan di Indonesia, tetapi malah dianggap tak baik bagi negara lain.

Memberikan Tip

Foto: uberindonesia.blogspot

Saat berada di tempat umum dan menerima bantuan dari orang lain, biasanya orang Indonesia memberikan imbalan. Sebagai salah satu sikap sopan atau terima kasih. Namun berbeda dengan di Jepang, karena mereka menganggap tip adalah sikap yang merendahkan. Orang Jepang dikenal memberi pelayanan terbaik di tempat umum dan tanpa mengharapkan tip.

Membunyikan Klakson

Di tengah kemacetan, biasanya di Indonesia terbiasa mendengar bunyi klakson dari berbagai kendaraan. Tapi di Norwegia berbeda. Hindarilah untuk membunyikan klakson, karena warga Norwegia hanya akan menggunakan klakson dalam keadaan darurat.

Tersenyum

Orang Indonesia dikenal dengan sikap yang ramah dan murah senyum. Namun, saat liburan ke Rusia hindari memberi senyuman dengan orang asing. Bagi orang Rusia, senyuman adalah isyarat intim yang diberikan kepada kerabat atau memiliki hubungan dekat. Bisa salah arti, Sahabat Sporto.

Bertanya Pekerjaan Seseorang

Sebagai salah satu sikap yang ramah, orang Indonesia suka mengobrol dengan orang asing dan menanyakan berbagai hal. Termasuk pekerjaan yang dilakukan orang tersebut. Tapi jangan tanyakan hal ini saat berada di Belanda, karena pertanyaan ini dianggap tidak sopan.

Makan Tanpa Sisa

Saat orang Indonesia terbiasa menghabiskan makanan yang dihidangkan atau dipesan. Hal ini menunjukkan rasa sopan sekaligus tanpa membuang-buang makanan. Hal ini tak berlaku di Cina. Sahabat Sporto dilarang makan tanpa menyisakan apapun atau membuat piring bersih. Mereka percaya, tak ada sisa makanan di piring berarti tak memberi cukup makanan untuk mengisi perut. Namun, kalau meninggalkan sedikit makanan, Sahabat Sporto justru dianggap menikmati makanannya.

Duduk di Kursi Belakang Saat Naik Taksi

Nah, ini yang sangat sering terjadi di Indonesia. Apalagi di tengah banyaknya transportasi online, khususnya mobil. Duduk di kursi belakang saat naik taksi sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia, namun tidak di Irlandia. Duduk di kursi belakang saat naik taksi dianggap bertentangan dengan peraturan egalitarianisme. Hal yang sama juga berlaku di Australia, Selandia Baru, dan Skotlandia.